Shalsa Nabila

Pengagum kata-kata dan pemimpi sepenuhnya.

Tuesday, 10 July 2012

Bumi Manusia: Dulu dan Sekarang


Perhatikan, semua nada bercurahan rancak menuju dan menuggu bunyi gong. Begitu dalam musik Jawa, tetapi tidak begitu dalam kehidupannya yang nyata, karena bangsa yang mengibakan ini dalam kehidupannya tak juga mendapatkan gongnya, seorang pemimpin, pemikir yang bisa memberikan kataputus.

Begitu, yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. Tentang cerita dari akhir abad 18, tentang keadaan bangsa yang mengibakan ini. Pramoedya menulis bahwa orang-orang Jawa diterjemahkan sebagai gamelan yang nadanya berputar-putar, mengulang, ogah mencari, dan tidak punya pribadi. Gamelan yang berbunyi rancak menunggu bunyi gong. Dan pada jaman itu, bangsa ini terus-terusan menunggu gongnya—pemimpinnya selama ratusan tahun. Hanya menunggu.

Sekarang, kita semua hidup dalam abad 21. Secara hitam di atas putih, bangsa ini sudah mempunyai sesuatu yang kita disebut sebagai pemimpin. Sudah memiliki gong. Tapi keadaan kita—rakyat masih sama seperti gamelan yang nadanya berputar-putar tak tahu kemana arahnya. Kita punya wakil rakyat tapi kebanyakan dari mereka pun hanya mewakili perut mereka sendiri. Kita punya hak suara, tapi apa pernah didengar sepenuhnya.

Kebanyakan yang terjadi sekarang adalah perulangan kembali dari masa ratusan tahun yang lalu. Hanya, ada sedikit perbedaan. Kalau dulu Pribumi tunduk merunduk kepada orang Eropa. Kalau sekarang Pribumi kecil tunduk merunduk pada Pribumi berduit. Kalau dulu Pribumi diatur-atur oleh hukum kolonial. Kalau sekarang hukum justru diatur oleh uang.

Lucu sekali. Karena bangsa ini begitu konsisten menjadi gamelan yang nadanya berputar-putar tak tahu kemana arahnya. Sementara gong yang ditunggu pun tidak hadir juga. 

0 Kommentarer:

Post a Comment