Perhatikan, semua nada bercurahan
rancak menuju dan menuggu bunyi gong. Begitu dalam musik Jawa, tetapi tidak
begitu dalam kehidupannya yang nyata, karena bangsa yang mengibakan ini dalam
kehidupannya tak juga mendapatkan gongnya, seorang pemimpin, pemikir yang bisa
memberikan kataputus.
Begitu,
yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. Tentang cerita dari
akhir abad 18, tentang keadaan bangsa yang mengibakan ini. Pramoedya menulis
bahwa orang-orang Jawa diterjemahkan sebagai gamelan yang nadanya
berputar-putar, mengulang, ogah mencari, dan tidak punya pribadi. Gamelan yang
berbunyi rancak menunggu bunyi gong. Dan pada jaman itu, bangsa ini terus-terusan
menunggu gongnya—pemimpinnya selama ratusan tahun. Hanya menunggu.
Sekarang,
kita semua hidup dalam abad 21. Secara hitam di atas putih, bangsa ini sudah
mempunyai sesuatu yang kita disebut sebagai pemimpin. Sudah memiliki gong. Tapi
keadaan kita—rakyat masih sama seperti gamelan yang nadanya berputar-putar tak
tahu kemana arahnya. Kita punya wakil rakyat tapi kebanyakan dari mereka pun
hanya mewakili perut mereka sendiri. Kita punya hak suara, tapi apa pernah
didengar sepenuhnya.
Kebanyakan
yang terjadi sekarang adalah perulangan kembali dari masa ratusan tahun yang
lalu. Hanya, ada sedikit perbedaan. Kalau dulu Pribumi tunduk merunduk kepada
orang Eropa. Kalau sekarang Pribumi kecil tunduk merunduk pada Pribumi berduit.
Kalau dulu Pribumi diatur-atur oleh hukum kolonial. Kalau sekarang hukum justru
diatur oleh uang.
Lucu
sekali. Karena bangsa ini begitu konsisten menjadi gamelan yang nadanya
berputar-putar tak tahu kemana arahnya. Sementara gong yang ditunggu pun tidak
hadir juga.
0 Kommentarer:
Post a Comment