Shalsa Nabila

Pengagum kata-kata dan pemimpi sepenuhnya.

Friday, 31 August 2012

Di Balik Bukit, di Ujung Selatan Pulau Jawa

PANTAI. Barangkali satu-satunya hal yang kutahu tentang pantai adalah bahwa aku tidak menyukainya. Karena panasnya, karena pasirnya yang kotor, karena baunya yang amis. Pantai-pantai yang pernah kukunjungi hanyalah pantai-pantai di utara Jawa. 
PACITAN. Satu-satunya hal yang kutahu tentang Pacitan adalah bahwa kota ini merupakan kota asal Presiden SBY. Oh, selain itu aku juga tahu kalau Pacitan terletak di ujung selatan Jawa, tentu merupakan kota berpantai. Hal yang aku tidak tahu adalah bahwa pantai di Pacitan ini begitu memesona. 

Pantai-pantai di Pacitan kebanyakan berada di balik bukit. Daerah Pacitan sendiri dikelilingi bukit-bukit. Maka, tidak heran juga kalau pantai-pantai disini cukup sejuk hawanya, hanya mataharinya saja agak terik. Tepat di kota Pacitan terdapat pantai, namanya Teleng Ria. Di pantai ini yang ku injak-injak adalah pasir yang halus sekali berwarna cokelat. Enaknya, pasir ini tidak kotor menempel pada kaki. Pun mataku dijamu dengan wajah laut berwarna biru muda dan bukit-bukit hijau yang mengelilinginya. Air lautnya jernih sekali, sampai-sampai rasanya aku mau berenang di situ. Tidak banyak orang yang berkunjung ke pantai ini, tapi justru itulah hal yang ku suka. Tidak berisik, tidak banyak yang akan mengotori pantai. 

Pantai Teleng Ria


Di sekitar Teleng Ria, kalau tidak salah ingat terdapat 2 buah restoran yang dari luar terlihat cukup bagus. Ada juga orang-orang yang berjualan batu warna-warni yang mereka sebut batu pacitan. Tarif masuk pantai ini kurang lebih 5000 rupiah per orang.

Wajah biru Teleng Ria, dilihat dari atas jalanan

Sekitar 30 km dari Pantai Teleng Ria—dengan menyusuri jalan-jalan kecil yang menanjak menurun menikung, melewati desa-desa, aku menemukan wajah laut yang lebih indah lagi. Namanya Pantai Srau. Pantai ini berpasir putih dengan banyak kulit-kulit kerang berwarna-warni yang terdampar di atasnya. Di pinggir pantai terdapat banyak batu karang yang di atasnya ditumbuhi lumut hijau-hijau. 
Kalau mataku memandang jauh, yang ku lihat adalah hamparan laut berwarna biru safir yang sejuk dipandang. Kalau aku menginjak air di pinggir pantainya, yang kulihat adalah air sebening air minum. Pernah, tidak sengaja aku memegang mulutku (padahal sebelumnya aku bermain-main air lautnya) dan yang terjadi kemudian adalah bibirku rasanya asin sekali... dan agak gatal. Pantai Srau ini sebenarnya terdiri 3 pantai yang berdekatan. Di Pantai Srau yang di tengah (yang ke-2), terdapat karang yang paling banyak, di bagian pinggirnya terdapat karang besar dan seperti membentuk terowongan. Sedang, di Pantai Srau yang ke-1 aku menemukan banyak sekali ubur-ubur beracun berwarna biru kehijaun yang terdampar di pinggir pantai, ubur-ubur ini sebenarnya sudah mati tapi kalau diinjak katanya bikin gatal-gatal. 

Pantai Srau ke-1


Kejernihan air di pantai Srau

Pantai Srau ke-2. Inilah batu karang yang berbentuk seperti terowongan

Kalau dibandingkan dengan Pantai Teleng Ria, pantai ini jauh lebih sepi. Mungkin karena tempatnya agak susah dicapai. Saat aku ke sana, hanya ada keluargaku dan satu keluarga lain yang bermain-main di pantai ini.
Biaya masuk ke Srau hanya 3000 rupiah per-orang, tidak heran apabila disini hanya ada mushalla yang kurang terawat dan toilet yang kotor. Walaupun harga tiketnya begitu murah, daerah-daerah di sekitar pantai ini sedikit sekali terdapat sampah dan cukup terawat (selain mushalla dan toilet tentunya). Lapangan parkirnya luas, dan ada juga beberapa warung kecil-kecilan (tidak terlalu banyak) yang menjual minuman di sekitar pantai ini.
Entah kenapa, aku suka sekali sama Pantai Srau :)




Aku tidak tahan untuk tidak tidur-tiduran di atas pasir putih, bersih, dan tidak lengket. Ditambah tempatnya yang sepi, jadi bebas mau bertingkah apa saja.


Wajah biru safir Pantai Srau


Awas! Ubur-ubur beracun!



Saat ingin foto-foto tiba-tiba airnya pasang, cukup tinggi loh ombaknya.

Tidak jauh dari Pantai Srau, ada Pantai Watukarang. Jaraknya sekitar 10-15 km dari Pantai Srau. Watukarang ini sangat mirip dengan Srau. Wajah biru safirnya, pasir putihnya, karang-karangnya... mirip sekali dengan pantai Srau. Hanya saja tempatnya lebih sempit dan banyak ranting-ranting yang berserakan. Tempat parkirnya juga sempit sekali. Secara pribadi aku lebih suka Pantai Srau. Tapi bagaimanapun juga, Watukarang ini merupakan pantai yang memesona.


Pantai Watukarang

Di antara semua pantai yang ada di Pacitan, yang paling indah katanya adalah Pantai Klayar. Di sana terdapat semburan air yang mirip dengan air mancur, akibat dari air yang sedang pasang. Kadang-kadang juga di sana terdapat bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh karang-karang yang mengelilingi pantai. 
Sayangnya, semua ini masih 'katanya', karena aku tidak sempat mengunjungi pantai ini. Jalanan menuju pantai ini rusak parah, sayang sekali.

Mungkin nanti aku akan pergi ke sana, bersama kamu, sahabat seumur hidup :)

0 Kommentarer:

Post a Comment