Shalsa Nabila

Pengagum kata-kata dan pemimpi sepenuhnya.

Friday, 6 July 2012

(Lagi-lagi) Cerita RISMA

Ada yang tidak bisa ku ceritakan padamu,
tentang cerita yang disampaikan
oleh langit dan tanah

Ada cerita yang tidak bisa ku ceritakan padamu,
tentang cerita yang disampaikan
oleh manusia

***

Matahari dan anginnya membuat gerah. Desanya dikelilingi bukit.  Dimana-mana ada sawah yang terbentang datar, mirip karpet hijau yang luas sekali. Di setiap subuh selalu ada benda langit yang bersinar terang sekali, mungkin planet atau mungkin juga sebuah bintang. 

Saat itu saya dan Subseksi Sains dan Perpustakaan ada di Desa Karehkel, Leuwiliang, Bogor. Kami kesana dalam rangka Riset Ilmiah (RISMA). Keadaan RISMA tahun ini dan tahun lalu jelas sangat berbeda, tapi dari 2 kali RISMA yang saya ikutin ini, rasanya saya belajar banyak sekali. Terutama, belajar dari orang-orang hebat dan organisasi yang... (tanpa ada rasa klise sedikitpun) saya ingin mengatakan bahwa ini adalah organisasi yang saya cintai. 




Tahun lalu.
Saya sebagai ketua RISMA. Saya berkepala panas, emosi juga masih jauh lebih labil dibandingkan sekarang. Saya wara-wiri mengurus RISMA, terutama pada hari pertama. Saya sempat nangis, sempat marah-marah ke teman saya sendiri. Banyak hal yang terjadi. Bisa dibilang saya jarang sekali main-main saat RISMA tahun lalu. Tapi justru dari situ saya belajar banyak hal. Dan sekali waktu ketika saya sempat bermain, sampai sekarang bahkan saya tidak bisa lupa, kebahagiaan yang saya rasakan waktu itu. Sebuah kehangatan yang diberikan oleh orang-orang yang tergabung dalam SP ini. 
Pada hari ke-4 alumni memberi kejutan, kami diajak ke Gunung Papandayan. Di atas gunung itu sepi, hanya ada kami. Udara saat itu dingin sekali, tapi entah mengapa saya merasa ada kehangatan yang menjalari tubuh saya. Ya, saya bahagia :)

Tahun ini.
Karena tahun lalu saya adalah ketua-nya, mau tidak mau tahun ini saya adalah penanggung jawab RISMA. Kondisi tempatnya sangat jauh berbeda. Mulai dari hawa tempatnya yang jauh lebih panas dibandingkan tahun lalu, airnya yang tercemar besi (kalau tahun lalu tercemar tanah), dan jarak tempuh yang buat saya terlalu singkat (karena saya sangat suka saat-saat ada di bus). Awalnya, saya cukup pusing melihat persiapan angkatan 48. Persiapannya sangat kurang. Sampai saat hari ke-2 RISMA, ada alumni yang kurang lebih bilang begini, "Mungkin, rasa kepemilikan RISMA dari 48 dan 47 masih kurang." Di situ saya sadar, kalau memang rasa kepemilikan saya terhadap RISMA tahun ini kurang. Dan entah kenapa setelah itu, saya sudah  lebih tenang dan tidak ambil pusing lagi tentang keadaan RISMA-nya. Saya banyak duduk-duduk melihat sawah bareng Farah dan Kinanti. Juga melihat bukit yang mengelilingi kami. Hal inilah yang saya luput dari RISMA tahun lalu, saya tidak sempat duduk-duduk menikmati pemandangan yang diberikan oleh langit dan tanah. 
Pada hari ke-4, malam-malam, saat itu ada sesi alumni, Kami semua duduk melingkar ditemani penerangan yang sangat lemah. Saat itu bisa dibilang saya menyidang 48, saya gemas melihat persiapan RISMA yang berantakan. Ketika itu, alumni sebagai moderator menengahi. Setelahnya, alumni justru banyak bercerita tentang SP dan tentang betapa mereka mencintai organisasi ini. Saya jadi teringat lagi tentang segala kejadian  selama satu setengah tahun ini. Dan selama para alumni bercerita, saya jadi ikut terenyuh sendiri mendengar cerita-cerita mereka. Cerita-cerita yang mereka bawa itu, tidak bisa saya ceritakan kembali. Tapi yang jelas pada saat itu saya belajar banyak hal. Hal ini juga yang luput dari RISMA tahun lalu, karena kami dibawa ke Papandayan, pulangnya sudah malam dan tidak ada sesi cerita-cerita seperti ini.

***

Setiap tahun bersenang-senang
Setiap tahun belajar
:)

0 Kommentarer:

Post a Comment