Kamu dan aku adalah dua dari beberapa orang yang beruntung yang bisa mendapatkan pendidikan yang cukup bagus di negeri ini. Memang, yang mendapatkan pendidikan sekarang ini, di negeri ini sudah cukup banyak, tetapi tidak semuanya mendapatkan pendidikan yang bagus. Bahkan, dalam sekolah-sekolah bagus pun banyak pelajar yang memilih untuk membuang moralnya dan menyontek, untuk mendapatkan sebuah kebanggan semu. Yah memang, kemungkinan besar tidak ada seorang pun yang belum pernah menyontek. Tapi aku tahu, ada banyak penyontek yang melakukannya di atas batas.
Pelajar yang cukup mengerti batasan itu lebih beruntung lagi. Nah, kalau kamu merasa termasuk orang yang lebih beruntung ini, coba keluar rumah, lalu ke jalanan yang ramai. Ke terminal angkot, pasar, atau bus kota. Banyak, banyak sekali anak-anak yang luntang-lantung di jalan. Pasti ada banyak sekali alasan kenapa mereka hidup di jalan. Tapi (entah kenapa aku yakin) bahwa sebab utamanya adalah bahwa mereka tidak mempunyai pilihan lain.
Dua tiga cukong mengangkang
Berak di atas kepala mereka (rakyat miskin).
WS. Rendra
Sebenarnya tulisan ini dibuat juga untuk mengingatkan diriku sendiri. Walaupun terjebak di rumah lumpur bernama sekolah ini, aku harus berjuang. Karena aku ingin memperjuangkan diriku, mengalahkan nafsuku... baru kemudian (insyaAllah) membantu mereka-mereka itu.
Karena aku dan kamu termasuk orang yang yang beruntung itu. Kalau bukan aku ataupun kamu, lalu siapa lagi yang akan membantu mereka? Menunggu orang lain melakukannya?
Mungkin tulisan ini juga terdengar klise dan hanya seperti mimpi siang bolong belaka. Kalau sudah dewasa nanti, pasti akan timbul masalah yang lebih rumit, mungkin sampai tidak sempat memikirkan orang lain. Lalu membiarkan nurani tertimbun sampah-sampah masalah kehidupan. Konsistensi. Itulah kuncinya.
Lagipula, kalau bukan ketika muda, kapan lagi akan bermimpi?
Dan kalau takut meniatkannya, bagaimana bisa ada yang berubah?
"Daripada mengeluh tentang kegelapan, lebih baik nyalakan lilin."