Shalsa Nabila

Pengagum kata-kata dan pemimpi sepenuhnya.

Wednesday, 12 September 2012

Di Suatu Senja


Saat bangun tidur, Ia merintih. Katanya, Ia tidak mau pagi datang. Di antara riuhnya siang, Ia bersembunyi. Katanya, Ia lelah menghadapi siang. Sebelum tidur, Ia bermimpi. Katanya, malam selalu memeluknya dengan harapan-harapan.

Suatu pagi, Ia bangun tidur. Ia tidak merintih. Ia menghirup pagi dalam-dalam. Lalu, Ia lupakan harapan-harapannya sendiri. Ia membuang semuanya. Mungkin, Ia sudah tidak yakin lagi dengan harapan-harapan dan impian-impian. Mungkin, baginya itu hanyalah slogan kosong yang sudah basi. 

Kemudian, Ia melangkah mengahadapi siang. Ia sudah tidak peduli lagi pada terik matahari, pada asap hitam kopaja yang membumbung, pada bau keringat orang-orang yang wajahnya ditekuk, dan pada ludah orang yang mungkin Ia injak.  Mungkin, Ia sudah tidak peduli lagi pada hidup.

"Tuhan, mungkin sebenarnya aku ini sudah mati."  Katanya.

_______________

Ia tertidur. Dan bangun ketika senja hampir menenggelamkan matahari. Ia hirup dalam-dalam udara sisa-sisa senja. Tubuhnya terasa ringan. Kemudian Ia hirup lagi udara senja itu. Tubuhnya terasa semakin ringan. Ia hirup lagi. Tubuhnya terasa semakin ringan lagi. 

Ia memejamkan mata. 

Saat membuka mata, Ia melihat sesuatu yang lebih merah dari senja hari itu, mengelilingi tubuhnya. Itu adalah darahnya sendiri. 

Sekonyong-konyongnya Ia sadar bahwa  hanyalah roh. Roh yang hampa, yang yakin bahwa neraka itu ada. Dan surga hanyalah dongengan masa kecil.

Sebelum angin senja meniupnya lebih jauh lagi, Ia masih bisa melihat, serpihan kaca yang menusuk kulitnya, memotong nadi hidupnya. 

Di antara merahnya senja hari itu, Ia menyimpukan.

Ia menyimpulkan, bahwa manusia hidup di atas darah dan nafas. Tapi itu saja ternyata tidak akan cukup, manusia perlu impian dan harapan. 

Tapi, siapa yang beridiri di atas impian dan harapan manusia? 
Pikirnya kemudian.

_______________

0 Kommentarer:

Post a Comment