Aku terduduk di dalam sebuah kereta. Di dalam gerbong yang temaram, tapi tidak masalah toh berkas kecil cahaya yang ada cukup untukku menulis. Kereta ini temaram dan memang lebih sering temaram. Memang temaram, tetapi bukan berarti kereta ini muram. Sebentar muram, sebentar silau. Tergantung apa yang dirasa dari dalam diriku. Saat-saat melihat ke jendela, aku lebih sering bernostalgia. Mengingat-ingat beberapa saat sebelum berangkat, semua hal sudah dibereskan ke dalam koper. Tanpa prasangka bahwa aku mungkin akan tersesat, dengan sengaja aku membeli tiket kereta yang berbeda dari yang sebelumnya kurencanakan. Di tiket tertulis kemana kereta ini menuju, tapi aku tidak bisa melihatnya. Tidak ada yang bisa, tidak aku maupun penumpang lainnya. Menakutkan memang, berada di atas kereta temaram yang terus melaju, pun aku tidak tahu aku mau dibawa kemana. Tapi aku harus bagaimana? Melompat dan kemudian mati? Tentu saja tidak. Aku sudah sering menangis, mendadak kereta ini kurasa menjadi terlalu muram. Semua cahaya yang kulihat diterjemahkan otakku sebagai kegelapan tanpa bayangan. Aku hilang dalam ketakutanku. Sudah sering menangis, tidak habis juga air mataku.
Dari tangisanku. Dari ketakutanku. Dari aku yang merasa kehilangan diriku sendiri. Dari cahaya yang temaram ini. Tanpa ada sedikitpun klise, aku merasa bahagia.
Dan di atas kereta yang melaju cepat-cepat ini. Aku belajar, untuk menjadi manusia.
Dari tangisanku. Dari ketakutanku. Dari aku yang merasa kehilangan diriku sendiri. Dari cahaya yang temaram ini. Tanpa ada sedikitpun klise, aku merasa bahagia.
Dan di atas kereta yang melaju cepat-cepat ini. Aku belajar, untuk menjadi manusia.
Kamis, 26 April 2012
0 Kommentarer:
Post a Comment