Shalsa Nabila

Pengagum kata-kata dan pemimpi sepenuhnya.

Monday, 12 March 2012

Buat Anggi


Sekarang aku akan bercerita. Tentang seorang teman lama.
Mungkin kalian akan bosan membacanya. Tapi ku harap tidak demikian dengan dia.



Namanya Anggita Selliana. Tentu aku sudah lupa bagaimana pertemuan pertama kami. Saat itu umurku dan umurnya kurang lebih 3 tahun. Kami bertetangga. Tembok samping rumah kami menempel. Kami sama-sama masuk TK pada umur 3 tahun, tapi kami bersekolah di TK yang berbeda. Pulang dari TK kadang aku tidur siang, kadang aku main ke rumah Anggi. Dengan hanya mengenakan kaus singlet dan celana dalam, aku main ke rumahnya. Pakaian Anggi juga sama, hanya singlet dan celana dalam. Pernah kami main Barbie sama-sama, baju-bajunya kami cuci pakai sabun mandi, rambutnya kami keramasi pakai shampoo biasa. Kami juga sering memainkan BP (Barbie Peot) yang terbuat dari kertas dan bisa diganti-ganti bajunya. Ada sebuah BP yang sangat kami suka, namanya Ling Ling atau Mei Mei kalau tidak salah (aku lupa). Saking sayangnya, ketika kepala Ling Ling atau Mei Mei ini copot, kami menguburinya di sekolah Madrasah di dekat rumah kami.

Di lantai atas rumah Anggi ada sebuah tempat cukup terbuka yang hanya dipagari besi, tempat untuk mencuci. Kami pernah beberapa kali mandi di atas sana sambil menyiram-nyiram air ke orang-orang yang lewat di bawah (tentu mereka tidak bisa melihat kami). Pernah juga, suatu waktu dia membeli kelinci, aku pun ikutan membeli kelinci. Aku beli hamster, dia juga ikutan membeli hamster. Tapi pada akhirnya semua hewan peliharaan itu mati. Saat sudah semakin besar, kami main karet. Dia yang mengajariku main karet. Tapi sekarang, aku lebih pandai bermain karet daripada dia (hoho, aku cukup bangga karena biarpun pendek, aku jago main karet). Kami juga belajar mengendarai sepeda roda dua bersama-sama. Saat sudah semakin besar lagi, kami bermain-main di Madrasah dekat rumah kami. Kami bermain di tiang bendera, berpura-pura menjadi pengibar bendera. Saat Anggi mulai bisa memasak mie instan, aku pun diajari dia masak mie instan. Dia juga yang mengajariku menggoreng sosis. Sampai sekarang dia suka bikin berbagai macam masakan, sedang aku terlalu malas untuk ke dapur.

Kelas 6 SD, kami bimbel di tempat yang sama. Di Kalimalang. Untuk sampai disana, kami naik ojek. Sedikit berdesakan sih karena kami berdua naik ojek yang sama. Pulang dari bimbel, biasanya sudah malam. Saat itu kami mengobrol, atau menghitung bintang yang kami lihat. Aku selalu kalah dalam permainan menghitung bintang ini. (Dan ternyata, beberapa bulan kemudian baru aku tahu kalau mataku minus 2 -__-).


Ada lagi hal-hal lain yang sering kami mainkan : Boneka Digimon. Pokemon. Lompat tali. Petak umpet. Bulu tangkis. Ayunan di rumah tetangga yang lain. The Sims. Dan yah aku lupa.... Mungkin kamu bisa ngelengkapin ini, Nggi.


Hari ini usia Anggi tepat 16 tahun. Makanya kutuliskan cerita ini. Bukan sebagai pengingat untuknya. Karena aku yakin kalau dia juga masih mengingatnya.
Tulisan ini kubuat karena aku menyayanginya. Dan karena sebuah tulisan akan bertahan lebih lama daripada memori-memori.

Semoga kamu selalu berbahagia, dan semoga Allah memberkahi kamu selalu 

:)

0 Kommentarer:

Post a Comment